When It’s Too Tough.

Dear you,

This writing is dedicated to you.

You, who has been hurt badly.

You, who has a million different problem

You, who is thinking that life is hard, especially for you.

When life is too tough, cry it out. Let frustration, anger, sadness and all other poison out. You are too precious to keep it all inside.

When life is too tough, talk it out. Let your friends and family knows what’s going on. Speak up and tell your story,

When life is too tough, write it down. Like what im doing right now. Write about anything that calm you down.

When life is too tough, remember the reason you’re here. Remember the goals of all effort. Remember the family that you fought for. Let it gives you a new energy

When life is too tough, count your blessings. All blessing in disguise that has happened. All smile and laugh that you share with loved ones.

When life is too tough, don’t give up. Step back and catch your breath. Take a break and stay down. You are way too important, so you can’t give up on life.

You are matters. You are loved.

You can get through anything.

 

Dear You,

Life is not always beautiful. But it is worth the fight.

and i wish we all luck.

 

Love,

LN

Happy Birthday, Me!

Selamat ulang tahun Lenn!

Selamat menjadi pribadi baru yang semoga lebih dewasa.

 

Hang in there ya Lenn. Hidup kadang memang suka kasih surprise. Suka tiba-tiba ada tantangan baru datang di saat kamu bahkan belum selesai sama tantangan yang lainnya. Tapi disitu serunya lho, kamu nggak pernah tahu apa yang bisa terjadi. Anything could happens.. even things that you never imagine ūüôā

Jangan lupa bersyukur saat kamu bangun setiap pagi ya. Kirimkan doa mu untuk Pap dan seluruh keluarga. Jangan pernah jadi orang yang lupa bahwa setiap pagi itu membawa cerita dan harapan baru. Jauhkan pikiran negatif dan senantiasa lah berada di bawah payung harapan.. karena itulah bahan bakar mu setiap hari

Besarkan hatimu juga ya. Saat kau mungkin ingin dimengerti, ingin dimaklumi.. Tidak mudah untuk orang lain mengabulkannya. Ingat saja bahwa hidup ini adalah tentang memberi, jadi jangan tanyakan apa yang akan kamu dapat, tapi teruslah berusaha untuk memberi.

Saat ingin menangis, menangislah. Jujurlah pada apa yang kamu rasa dan siapa dirimu. Nggak perlu lagi bersembunyi di balik citra. Kamu ya kamu.

Selamat ulang tahun ya Lenn. Bertambah lagi pengalaman hidupmu, bertambah lagi asamu. Semoga tahun depan, aku bisa ucapkan selamat lagi untukmu. Dan mendoakan kembali hal-hal terbaik.

Kapan Kawin?

Besok, salah satu sahabat gue menikah. Hal itu tentu saja membahagiakan buat gue karena:

  1. Gue sayang sama sahabat gue itu dan mau lihat dia bahagia.
  2. Gue tahu gimana perjalanannya dalam mencari pasangan.
  3. Gue selalu suka kisah cinta yang ‘out of the blue’ dan nggak biasa kayak kisah dia.

Menyiapkan diri untuk hadir di pernikahannya jadi hal yang menyenangkan buat gue. Mulai dari jahit seragam, beli beragam make up untuk dipakai di resepsi nya, sampai ke make up rehearsal a.k.a latihan make up demi untuk jadi bridesmaid yang layak tampil di resepsi perhikahannya. Seharian ini gue EXCITED. Sampai tiba-tiba, beberapa menit lalu pas gue mau tidur, gue inget sesuatu..

Besok, semua teman SMA gue akan berkumpul. Selain dia (si CPW), seluruh sahabat se geng gue di SMA ini sudah menikah dan punya anak. I am the last single woman. Bukan hanya lagi single dan sibuk kerja, gue pun lagi bermasalah dengan berat badan (baca: KEGENDUTAN). Gue yang tadinya excited pun berubah resah. Tiba-tiba merasa besok akan jadi santapan empuk orang-orang untuk ditanya tentang 2 hal ini:

  1. Lo kapan kawin / nyusul / nikah?
  2. Kok gendutan / sehat amat / makmur ya sekarang?

Ditanya ‘kok gendutan?’ udah jadi hal biasa buat gue. Gue pun sadar bahwa kenaikan berat badan gue ini ya gue sendiri yang menyebabkan, dan sekarang gue lagi berusaha mengatasinya. Jadi, walaupun komentar tersebut termasuk body shaming dan nggak seharusnya ditanyakan ke manusia manapun atas dasar basa-basi semata, gue udah cukup santai menghadapinya.

Yang membuat gue akhirnya bangun dari tempat tidur, nyalain lampu kamar dan sesegera mungkin ambil laptop untuk nulis keresahan ini adalah pertanyaan no 1:

LO KAPAN KAWIN??

1 pertanyaan. 3 Kata. 12 Huruf.

Pertanyaan ini sanggup membuat gue (dan gue yakin banyak wanita lain di luar sana) males datang ke resepsi pernikahan. Bukan karena gue nggak turut berbahagia atas pernikahan tersebut, tapi karena gue nggak mau merusak hari gue atau hari orang lain, hanya karena pertanyaan yang menurut seluruh bangsa Indonesia ini layak untuk dipertanyakan kepada pria / wanita yang sudah masuk usia menikah, hanya atas dasar basa basi, cari bahan obrolan atau ya buat ice-breaker aja biar nggak awkward pas lagi berdiri sebelahan makan kambing guling.

Kemana rasa bahagia gue untuk sahabat gue itu? Sekarang rasanya kok gue mau bailing out aja dari resepsi tersebut dan stay di rumah sambil nonton korea.

Sebenarnya bukan pertanyaan nya yang bikin gue resah. Gue punya 1001 jawaban template untuk itu, mulai dari yang sopan, religius, sampai rebellious, gue bisa jawab sesuka hati. Dan tentu saja gue nggak iri lihat orang lain yang sudah lebih dulu bahagia dengan pasangan  dan keluarga kecilnya. Gue selalu percaya, semua orang punya waktunya masing-masing. Dan waktu itu sudah Tuhan tentukan sesuai dengan rencana Nya.

Yang membuat gue resah adalah perasaan yang ditimbulkan oleh pertanyaan tersebut. Gue, wanita 32 tahun, single dan bekerja, menjadi tulang punggung untuk ibu dan 2 orang adik. Gue bangga dengan kehidupan dan pencapaian gue. I am very proud of myself.¬† Tapi kebanggaan tersebut bisa pelan-pelan pudar saat beberapa orang di satu acara / venue berbondong-bondong menyerang gue dengan pertanyaan ‘Kapan Kawin?’. Pertanyaan yang seolah-olah mengingatkan gue bahwa, sebesar apapun effort yang sudah gue lakukan untuk mencukupi keluarga, sekuat apapun energi yang gue keluarkan untuk menjalani hidup, gue belum jadi manusia yang utuh dan sukses. Gue masih gagal. Kenapa? karena gue BELUM KAWIN. Gue akan di cap sebagai failure.

Perasaan itu yang selalu gue hindari. Karena perasaan itu akan menggerogoti kepercayaan diri gue, dan itu nggak sehat.

Bisa kok nggak dibawa perasaan. Bisa kok dilewatin aja sambil lalu dan nggak dimasukin ke hati. Tapi kalau gitu kita akan selalu memaklumi mereka yang bertanya cuma karena iseng atau basa basi? Kita akan selalu memaklumi orang lain yang berusaha mencampuri urusan pribadi kita? Kita akan selalu memaklumi mereka yang bebas menilai hidup kita hanya dari status pernikahan?

Lelah lho itu. Coba deh kalau nggak percaya.

Daripada begitu, kenapa kita nggak mulai meng-edukasi diri dan orang-orang terdekat untuk mulai memperluas pandangannya. Bahwa untuk memulai percakapan dengan teman / kenalan yang sudah lama nggak ketemu nggak harus selalu dengan pertanyaan ‘Kapan kawin’ atau ‘kok gendutan / kurusan’. Bahwa lebih baik berdiri dalam diam daripada harus ‘kepo’ tentang hal yang pribadi. Dan bahwa nilai wanita tidak ditentukan oleh sudah menikah atau belum.

Gue seringkali diingatkan oleh teman yang sudah menikah, bahwa pernikahan bukanlah sebuah akhir perjalanan melainkan sebuah awal perjalanan baru. Karena itulah, sudah sewajarnya pernikahan tidak dijadikan tolak ukur kesuksesan seseorang. Karena untuk memulai sebuat perjalanan baru bernama pernikahan, dibutuhkan banyak hal baik secara fisik maupun mental. Dan karena ia sebuah perjalanan, maka mungkin saja kalau ada seseorang yang memilih untuk tidak menempuhnya. Tidak menikah bukan karena tidak mampu, namun karena memang bukan perjalanan tersebut yang dia cari.

Jadi kesimpulannya,

‘Kapan gue kawin itu sama sekali bukan urusan kalian’¬†

 

Sekian curhatannya.

Semoga besok gue bisa bertahan selama akad dan resepsi.

 

STAY,

Kalau boleh memilih..

Bolehkah kudiamkan waktu berjalan

Dapatkah kuacuhkan hari berganti

 

Kalau boleh memilih

Bisakah kau tetap disini

Berada tepat di hadapan ku, berjalan bersisi dengan ku

 

Kalau boleh memilih..

Bolehkah kulupakan masa depan dan hidup hanya demi saat ini

Karena tidak ada arti matahari terbit, tanpa ku tahu kau di sini

 

Kalau boleh ku meminta..

Jangan pernah pergi

Berdiamlah disisiku

Temani aku

Lindungi aku dari perah keras kehidupan

 

Kalau boleh ku meminta..

Tetaplah ada selalu

Tanpa pergi

 

Ada lah selamanya

Atau hingga ku pergi lebih dulu

Agar tak kurasakan

Hari tanpa kehadiranmu

 

 

*I Love you, mam*

Hey Pap.

Hey Pap..

Lagi apa di sana? Semoga tenang dan bahagia di tempat baru ya. Banyak teman ya pasti di sana? Makan dan minumnya juga pasti lebih sehat kan?

Jangan ngerokok lagi ya pap, ga baik untuk kesehatan.

Hey Pap.

Maaf dulu aku sok tau ya.. selalu merasa paling benar, paling pintar, paling segala galanya. Aku nggak tahu kalau jadi kepala keluarga itu berat. Maaf ya Pap.

Aku sekarang lagi belajar Pap. Belajar atur keuangan, belajar atur jam kerja, belajar jadi tulang punggung dan kepala keluarga yang baik. Belajar mengiklaskan, belajar sabar, belajar jadi dewasa.

Aku belum ada apa apanya Pap. Dibanding Papa dulu, aku lebih sering emosi. Lebih gampang capek, lebih sering lupa sabar.

Maaf lagi ya Pap. Aku dulu sering bikin Papa marah.

Hey Pap.

Aku suka ketemu orang yg mirip Papa lho. Entah rupa atau tindakannya. Kata orang itu tandanya rindu. Tapi emang bener sih. Aku suka tiba tiba rindu. Kangen. Pengennya balik ke masa masih ada Papa.

Pap. Aku kemarin ajak mama dan adik2 liburan. Sebentar sih, tapi lumayan lah. Paling nggak mama dan adik adik senang, itu udah cukup. Dulu Papa gitu juga ya? Selalu senang kalau ajak kita liburan? Maafkan akhir waktu kemarin aku sok sibuk ya Pap, sampai lupa sama keluarga. Entah apa yang kukejar kala itu.

Hey Pap.

Nanti kita akan ketemu lagi kan ya? Di alam kekal yang Allah janjikan. Nanti di sana kita jalan jalan ya. Ngobrol, becanda, bercerita.

Pap.

Aku rindu.

Maafkan aku yang tumbuh besar tapi tidak jadi dewasa kemarin itu.

Semoga Papa bahagia di sana.

Love.

One Little Step, Two Little Step.

Hai,

Apa kabar?

Ini tulisan pertama saya setelah berhenti nulis dan sibuk sama ‘hidup’ selama 9 tahun. Banyak yang berubah selama 9 tahun ini. Dulu masih 20-an, sekarang udah 30-an. Dulu masih drama, sekarang.. ya masih juga, cuma lebih subtle aja drama nya, hehe. Dulu berani ngaku punya banyak teman, sekarang temennya itu-itu aja. Dulu orang tua masih lengkap, sekarang Papa udah nggak ada.

Eniwei, blog ini saya mulai di awal tahun 2018. Persis tanggal 1 Januari 2018. Biar kayak orang-orang, tetep punya resolusi di tahun yang baru, HAHA. Sekarang sih belum tahu mau cerita apa, yang penting mulai dulu. Karena semua langkah besar berawal dari ribuan langkah kecil, dan semua komitmen besar dimulai dari komitmen cemen semacam ini. Siapa tahu tahun ini saya jadi berani punya komitment yang seumur hidup (baca: MENIKAH). Tolong di AMIN-i. Makasih.

Nggak banyak yang bisa saya ceritain di langkah awal ini. Saya cuma berharap, blog -yang belum tahu nanti akan diisi apa- ini bisa jadi semacam terapi buat saya. Terapi supaya bisa lebih jujur sama diri sendiri, dan sama orang lain. Terapi supaya otak dan hati bisa selalu peka, dan nggak jadi tumpul karena rutinitas.

Paling nggak di setiap penghujung hari, saya tahu ada 1 halaman khusus yang menunggu untuk saya temui. Halaman yang bisa menampung semua pikiran, keluh kesah, kenangan dan harapan.

Selamat datang di 2018, kamu.

Semoga semua pintu baik terbuka di tahun ini. Dan semua doa terkabulkan.